Diklat Jurnalistik SMAN Sutojayan, Tingkatkan Kapasitas Membuat Berita yang Bisa Dipercaya bagi Siswa
Diklat jurnalistik ini menghadirkan pemateri dari jurnalis media mainstream, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas siswa membuat berita yang dapat dipercaya.Diklat jurnalistik di SMAN 1 Sutojayan ini dilaksanakan di Kelas 11-1 diikuti oleh 23 siswa kelas 10 dan 11 acara dimulai sekitar pukul 09.15 WIB. Dalam sambutannya, Sulis Supriyanto, S. Pd selaku Waka Kesiswaan SMAN 1 Sutojayan mengharapkan, Diklat jurnalistik tahun ini mampu meningkatkan kreativitas jurnalis di era digital. “Saya berharap semua siswa bisa menyerap ilmu yang diberikan pemateri. Dan nantinya, ilmu itu bisa bermanfaat untuk negara, agama dan pribadi siswa yang mengikuti ekstrakulikuler jurnalistik ini. Saya bangga kalau ada jurnalis di Blitar yang alumni sekolah ini,” kata Sulis, Sabtu (21/10/2023).
Pemateri diklat jurnaliatik ini Erliana Riady, seorang jurnalis dari media detik.com. Dalam pemaparannya, Nana panggilan akrabnya, memberikan batasan dan perbedaan antara media massa dan media sosial. Kemudian bagaimana proses pembuatan sebuah berita yang dimulai dengan liputan.
Yakni mendatangi lokasi kejadian, wawancara dengan narasumber yang punya kapasitas menyampaikan statemen dan mendokumentasikan jejak kejadian dari beberapa titik yang mendukung data dan fakta di lapangan. Karena untuk membuat berita yang bisa dipercaya, pemilihan narasumber dan materi wawancara harus tepat. Selain itu sinkronisasi data dengan fakta bisa dilihat dan didengar dari keterangan para saksi dan narasumber dari lembaga atau instansi yang berwenang. “Berita dikatakan baik dan benar jika bisa dipercaya. Bagaimana sebuah berita bisa dipercaya, ketika data dan fakta itu valid dan disampaikan oleh narasumber yang punya kapasitas untuk menyampaikannya kepada masyarakat luas,” kata Nana.
Beberapa siswa mengakui kendala utama dalam menulis berita adalah memulai menulisnya. Namun mereka juga mengakui, jika jarang membaca dan kesulitan menyusun kalimat karena minimnya literasi yang dikonsumsi. Ini terbukti, pada siswa yang mengikuti Diklat jurnalistik hari ini, semua mengetahui trending topik kasus terbaru di Blitar dari melihat TikTok.
“Bagi seorang jurnalis, membaca itu wajib. Karena semakin banyak literasi, maka semakin mudah memilih diksi untuk menyusun narasi,” imbuhnya.
Seorang peserta Dhimas mengaku sangat senang mengikuti acara ini. Selain menambah pengetahuan tentang menulis sebuah berita, dia berharap ilmu ini bisa diaplikasikan dalam kegiatannya sehari-hari.
Misalnya menulis berita untuk majalah sekolah atau mempostingnya di akun media sosial namun dengan membangun narasi yang lebih lengkap berserta data dan fakta. “Setelah mendapatkan ilmu tentang jurnalistik hari ini saya sangat senang. Karena makin lengkap pengetahuan saya, seperti bagaimana proses liputan kemudian menjadikan tulisan ternyata seru juga. Saya ingin membuat berita yang bisa dipercaya sekarang, dengan data dan fakta seperti yang tadi dicontohkan,” pungkasnya.***


Leave a Comment